Minggu, 04 April 2021

NILAI, MASIHKAN SEBAGAI TOLOK UKUR KEBERHASILAN KBM PJJ DIMASA PANDEMI ?

Oleh Yudi H

Penilaian sebagai bagian proses pembelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menyerap dan memahami informasi yang diterima yang disesuaikan dengan kondisi masing - masing satuan pendidikan.

Jika pembelajaran Jarak Jauh yang dipilih adalah full online, maka jelas keterlibatan guru sangat terbatas, khususnya dalam melihat dan menilai perubahan perilaku siswa dalam belajar. 

Mereka diharuskan untuk mandiri. Baik dalam mengumpulkan informasi pembelajaran, memahami, sampai dengan mengimplementasikannya.
Kesulitan ini nampak jelas untuk siswa - siswa yang masih berada di sekolah menengah dalam mengikuti pembelajaran. 

Kehadiran siswa selama pembelajaran ternyata menjadi kendala tersendiri untuk menentukan bahwa penyampaian materi telah dikuasi oleh siswa. Mereka sering melakukan pembelajaran di tempat -tempat yang sebetulnya tidak kondusif,  yang berpotesi menyebabkan siswa tidak bisa fokus. 

Pengalaman di sekolah penulis,  saat ujian tiba, hasil yang mereka peroleh nyaris sama dengan saat mereka tatap muka, yakni masih banyak yang di bawah nilai kriteria ketuntasan minimum. Padahal kesempatan untuk memperoleh nilai tinggi sangat dimungkinkan. Selain materi yang lebih sedikit, sumber - sumber informasi lain yang dapat dimintai tolong menjawab, sangat terbuka. 

Dilihat dari waktu pengerjaan soal. Untuk mata pelajaran PPKn yang banyak mengandalkan soal "rasa", membutuhkan waktu rata-rata 20 detik/soal untuk menjawab 40 pertanyaan, yang sesungguhnya sangat tidak mungkin untuk membaca soal, memahami pertanyaan, lalu menganalisa jawaban dan memilihnya.

Atas kondisi diatas, apakah masih relevan dilakukan penilaian  pengetahuan ? Validkah penilaian itu ? Apalagi jika sudah ditentukan berapa nilai minimumnya. Maka akan menjadi kecenderungan bagi penilai untuk memberikan nilai dasar.

Jika dikaitkan dengan PPDB, maka jalur zonasi masih memberikan persentase lebih tinggi  ketimbang apresiasi nilai.

Mengapa penilaian tidak berdasarkan pada aktivitas mereka dalam mengikuti pembelajaran, semakin aktif nilainya semakin tinggi. Atau kegiatan non akademis lainnya tanpa harus ditargetkan menjadi juara ?

Surabaya, 4/4/21

Jumat, 02 April 2021

SENI BERKONFLIK, BELAJAR MENGENALI KONFIK SEJAK BELIA

Oleh Yudi H

Memahami konflik, dibumi Indonesia ini sungguh sangat relevan. Konflik yang muncul sering ditampilkan begitu telanjang oleh hampir oleh semua media massa. Rekaman peristiwa kemarahan yang dengan membawa nama Tuhan begitu dahsyat diperdengarkan sehingga menghapus ingatan bahwa seseungguhnya mereka adalah bersaudara. Terlebih dengan ikut sertanya siswa - siswa sekolah SMA dan SMP sebagai peserta konflik.

Konflik sesungguhnya telah diperkenalkan dengan sangat jelas sejak Sekolah Dasar. Melalui tema tema pembelajaran yang menunjukkan kenyataan bahwa kita terlahir secara berbeda. Suku, agama, ras, dan golongan. 

Pada jenjang sekolah menengah, mereka sudah belajar untuk mengidentifikasi konflik, cara penanganan sebelum, saat dan pasca terjadinya konflik.

Penyadaran bahwa berbeda itu adalah hal lumrah dan sangat biasa. Karena bagaimana mungkin dapat disatukan  pemikiran seseorang dengan berbagai latar belakang? Maka berpeluh dan urat menonjol serta suara keras saat meyakinkan seseorang jauh lebih menarik ketimbang baku pukul.

Para siswa juga diajari dalam kehidupan demokratis, bebas bersuara dalam kehidupan akademisnya. Harapannya saat terjadi konflik diantara mereka, lebih dikedepankan proses dialogisnya.

Barangkali pengalaman masa lalu yang masih menabukan diskusi tentang SARA, materi yang ada pembelajaran itu sangat terkonsep dengan  menonjolkan nilai - nilai Pancasila dalam tataran teoritis, yang kurang asyik untuk digali lebih dalam.  Nampak sekali dengan penggunaan kalimat - kalimat "baku", yang tidak aplikatif  dan susah dimengerti. Karena selalu mengarah pada sila - sila tertentu.

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sesusungguhnya bukan sekedar pelajaran menghapal. Ia merupakan praktek dalam bersikap dalam kehidupan. Bukan sekedar menghapal butir sila Pancasila maupun UUD NKRI tahun 1945.

Maka ilustrasi konflik diberbagai daerah yang dipicu agama, ekonomi, politik, maupun lingkungan amat tepat untuk dipelajari. Bukan tentang kekerasannya , tetapi dampak yang ditimbulkannya. Lalu solusi bagaimana cara menyelesaikannya.

Arsip - arsip vidio yang dapat diakses melalui you tube justru akan sangat berbahaya apabila siswa - siswa tersebut hanya melihat, membaca tanpa didiskusikan. Disinilah peran guru bermula, karena penjelasannya secara komprehensive atas tindakan yang dijadikan konten vidio akan mampu memberikan pemahaman baru kepada siswa. 

Surabaya. 02/04/21

Rabu, 31 Maret 2021

Toleransi dan Deradikalisasi dalam Keluarga.


Oleh Yudi H

Hari Minggu 29/3/2021. Sepasang suami istri tewas terkena ledakan bom yang dibawanya menuju gereja di Makasar. Bom yang berisi bahan peledak bercampur potongan paku juga melukai beberapa warga dan jamaah gereja. 

Mereka baru 6 bulan melangsungkan pernikahan.

Tahun 2019, di Sibolga, seorang suami yang lebih dahulu ditangkap Polisi bahkan harus membujuk Istrinya agar menyerahkan diri. Namun  si istri memilih meledakkan dirinya dari pada menyerahkan diri.

Tahun 2018, beberapa keluarga yang terdiri dari anak dan istri juga tewas meledakkan dirinya dengan bom dibeberapa lokasi di Surabaya. 


Keluarga, sesungguhnya adalah tempat deradikalisasi dan bertoleransi yang paling tepat. Anggotanya dapat saling mengisi apabila ditemukan kekosongan pemikiran tentang toleransi. Maka agak mengherankan apabila secara sadar dan bersama - sama merencanakan pengemboman seperti itu.

Membayangkan keluarga teroris yang berkumpul bersama, lalu meracik sebuah bom, dengan penuh kasih sayang  sang ayah meminta agar ditambah paku dalam adonannya, merajang potongan - potongan besi, agar nantinya saat meledak dapat lebih melukai.

Entah dimanakah wujud manusianya saat itu. Karena yang akan menjadi korbannya adalah manusia. Bukan hewan, yang untuk mematikannya pun memerlukan cara yang baik. Terlepas dia itu Kristen, Islam atau bahkan Kafir sekalipun. Mereka tetap manusia.
 
Bukankah akan lebih mak nyus seperti kejadian sebenarnya ini andaikata dalam sebuah keluarga berikut,  seorang ayah  mengajak berdialog putranya sembari meminta  dibantu membersihkan kipas angin. 

Mereka bisa berbincang tentang apa saja. Termasuk konsep-konsep jihad dapat diberikan dengan cara yang nikmat. Jihad tak harus mati. Bidadari pun, jika ingin ketemu, dapat dijumpai saat itu juga. 

Tentu saja wawasan orang tuapun harus terbuka dengan segala jawaban atau pertanyaan yang menggelisahkan. Tak harus menguasai semua jawaban. Malah seharusnya, pertanyaan yang tak terjawab itu dapat bersama - sama dicari jawabnya.

Toleransi, dengan cara sederhana dapat diwujudkan pula dalam keluarga. Jika si kakak sedang zoom, si adik bisa menunggu gilirannya untuk tik tokan. Sehingga suara yang keluar dari HPnya tak akan mengganggu. Contoh sederhana kehidupan bertoleransi tidak harus dipahami secara keras dan sak lek.

Umar Patek, bomber Bom Bali, akhirnya dapat tersadarkan dari paham itu dari keluarganya sendiri.

Surabaya, 1/4/21

Selasa, 30 Maret 2021

Menganalisa Nilai Kompetensi Siswa Saat PJJ menggunakan Microsoft Forms


Oleh Yudi H

Setelah Pelaksanaan PTS dan PAT secara fully online, sebagai bagian dari pembelajaran jarak jauh, maka berikutnya adalah bagaimana melaksanakan  penilaian terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan. 

Sama dengan penilaian secara offline/luring, tujuan utama dari penilaian ini adalah mengetahui sejauh mana transfer pengetahuan/knowledge dalam suatu kurun waktu yang dilakukan oleh guru dan murid.

Hanya saja untuk penilaian pembelajaran dimasa pandemi, tuntuan kurikulum dikurangi dibanyak hal, dimana pemberian materi lebih diutamakan pada proses-proses bertahan hidup melalui pemilihan kompetensi dasar yang paling esensial.

Penilaian secara daring  selain diperoleh angka-angka secara cepat, juga akan dapat dilihat  kecenderungan memilih jawaban, maupun persentase jawaban yang  sepenuhnya ditangani oleh program aplikasi.
 
Pada Microsoft Forms, setiap pertanyaan dapat diberikan score yang terakumulasi dalam jumlah total nilai akhir. Untuk penilaian ganda dengan 4 ragam jawaban, pembuat soal akan bisa melihat pada pilihan jawaban yang mana yang banyak dipilih oleh siswa. 

Teoritisnya setiap soal terdiri dari 1 jawaban benar dan 3 jawaban pengecoh yang tidak diperbolehkan untuk mengarahkan pada satu jawaban  tertentu, atau jawaban yang tidak masuk akal/logis dari pertanyaan yang diajukan.

Soal dapat diatur kapan dapat diakses  dan kapan berakhirnya baik dari menu forms itu sendiri maupun dari Teams. Berapa lama bisa mengerjakan ? Ini yang nampaknya belum disediakan oleh Forms.

Analisis lebih dalam seperti halnya pengukuran statistik dapat dilakukan dengan fungsi - fungsi statistik pada program pengolah angka, setelah mendownload hasilnya dalam format excel.

Surabaya, 31/03/21

Kamis, 25 Maret 2021

Mengembangkan Perpustakaan sekolah di masa Pandemi.


Oleh Yudi H

Sebagai sebuah jantung lembaga pendidikan, Perpustakaan  sekolah saat ini nyaris menjadi gudang buku belaka. Berdebu, dengan jumlah koleksi yang tak juga bertambah secara signifkan. Pun tengok koleksi yang dimiliki masih  didominasi Laskar Pelangi atau buku  karangan Tere Liye.

Tak ada kegiatan selain aktivitas peminjaman dan pengembalian buku di awal atau diakhir tahun ajaran baru.

Bagi sekolah yang memposisikan perpustakaan sebagai bagian utama kegiatan belajar mengajar, tentu kondisi semacam ini sangat menyedihkan. Kegiatan berliterasi siswa tak bisa dikembangkan secara maksimal. Tak hanya membaca, kemampuan menulis pun semakin tak bisa digencarkan.

Dibutuhkan kreatitias yang out the box  agar perpustakaan tak berubah fungsi menjadi gudang, yakni dengan memanfaatkan kekuatan utama yang saat ini hampir dimiliki semua sekolah.

Kekuatan dimaksud adalah kemampuan  dalam menyediakan jaringan internet sebagai tulang punggung kegiatan pembelajaran.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.

1. Katalogisasi buku secara on line. Pustakawan dapat melakukan katalogisasi koleksi secara lebih tertib dengan menggunakan Dewey Decimal System, yang telah terintegrasi dalam SLIM (Senayan Library Management System) https://slims.web.id/sdc/ yang akan memudahkan mengelola koleksi perpustakaan baik secara digital atau manual.

3. Penambahan koleksi. Perpustakaan Sekolah (khususnya menengah)  dapat dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan  dana  BOS.  Selain fisik, perpustakaan dapat pula mengajukan kerja sama pemanfaatan layanan buku elektronik dengan lembaga - lembaga lain yang telah lama berkecimpung dalam dunia perpustakaan. Bentuknya bisa berupa corporate responsibilities, promosi dalam jangka waktu tertentu dan beberapa bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Perpustakaan sekolah dapat bergabung dengan komunitas perpustakaan lainnya. Misalnya  Perpustakaan Nasional. Jaringan ini selain memperkuat perpustakaan sekolah dalam pengadaan buku, juga akan memperoleh pengetahuan baru tentang tata cara pengelolaan buku yang secara reguler diadakan oleh mereka.

4. Menambah judul buku dengan beragam genre yang akan mendorong semangat untuk membaca. Dalam 10 tahun terakhir, pengarang buku remaja sudah jauh lebih banyak, dibandingkan pada medio 90 an, yang barangkali hanya  Hilman Hariwijaya dan Golagong. Sekarang ini penulis dan penerbit indie sangat mudah ditemukan. Seleksi isi buku tentu tetap wajib ditemukan, namun jangan terlalu ketat. Selama tidak ada penggambaran secara vulgar, karya itu sebaiknya tetap diadakan. Inilah yang juga menyebabkan pertumbuhan pembaca buku online meningkat, sebagaimana bisa dilihat pada wattpad, dimana sensor cerita tidak begitu diutamakan.

5. Temu penulis. Penulis, atau pegiat literasi lainnya merupakan narasumber menarik untuk berbagi. Pengalaman mereka dalam proses kreatif dapat disebarluaskan kepada seluruh warga sekolah secara on line. Teknik membaca nikmat, menulis cepat, membaca puisi adalah tema-tema yang dapat dipilih secara rutin.

6. Bedah buku. Siswa dapat berdiskusi dengan rekan-rekannya tentang buku yang mereka baca. Tentang cerita, karakter para tokoh, atau hal menarik lainnya. Sebuah cara yang akan mengasah dan meningkatkan Kemampuan presentasi mereka, yang tentu saja dilakukan secara on line pula.


Surabaya, 24/03/21

Selasa, 23 Maret 2021

Dunia Maya pun perlu Etiket


Oleh Yudi H

Setidaknya ada 2 berita yang menunjukkan perilaku masyarakat dunia maya kita. Dari akun twitter microsoft tentang tidak diterimanya survey mereka tentang ketidaksopanan netizen Indonesia di urutan 29 dari 32 negara yang disurvey. Serta akun chess.com yang komennya dibanjiri netizen akibat membanned akun dewa kipas akibat tuduhan kecurangan yang dilakukannya.

Dua akun diatas harus menutup kolom komennya karena banyaknya komentar netizen Indonesia. Padahal perusahaan di atas bukanlah perusahaan awu-awu yang mempertaruhkan reputasi yang telah mereka bangun dengan susah payah hanya gara - gara permasalahan itu.

Secara kasat mata seharusnya tak ada yang istimewa dari kasus penutupan itu. Karena toh itu akun mereka sendiri. Hanya yang "agak" menarik, penutupan itu digambarkan sebagai bentuk kemenangan warga +62 melawan hegemoni Barat

Etika dalam bermasyarakat di dunia maya sekalipun belum diratifikasi secara internasional, karena begitu luas dan tak ada batasan geografis, sesungguhnya telah dipersiapkan dalam bentuk aturan perundang-undangan.

Di Indonesia, UU ITE sebetulnya memberikan batasan dalam berperilaku. Larangan tentang ujaran kebencian menjadi contoh kasus dalam hal ini.

Maka sekaranglah saatnya "meluruskan" kembali etika berkomunikasi di dunia maya,  inilah yang paling tepat untuk mengajarkan kepada anak - anak manakala mereka berinteraksi dengan gurunya. Tata bahasa dan adab wajib diperhatikan meski komunikasi lewat media HP, karena bisa dipastikan jika tidak terbiasa beretika, perilaku itu akan mewujud dalam kehidupan di dunia nyata.

Jika kebetulan kita guru, lerubahan etika berkomunikasi tentulah dimulai guru. Tak boleh kita abai untuk mengingatkan saat terjadi kesalahan komunikasi, meski kecil, itu bisa mengakibatkan kebiasaan.

Dan sebetulnya mudah saja. Yakni dengan mengurangi penggunaan kalimat yang lebay, misalnya, akronim , saja untuk azzha, Q untuk saya, atau yang lainnya

Mudah kan ?

Surabaya, 23/02/21

Jumat, 19 Maret 2021

Seni Mudah Memulai Belajar Program Komputer

 oleh Yudi H


Terbiasa menthelengi komputer tak lantas selalu menguasi program yang diinstalkannya. Mengingat program itu dibuat oleh beragam developer sesuai kebutuhan program tersebut. Namun menariknya, hampir semua program populer itu sangat intuitif, barangkali, hanya berbekal kira - kira, program tersebut dapat mulai dipelajari dengan mudah.

Sebuah program komputer dibangun secara sistematis dengan menggunakan syntaks berupa aturan penulisan program, semantik (maksud dari program) dan logika eksekusi yang sama. Aturan ini selain memudahkan bagi programer, akan juga memudahkan bagi penggunanya nantinya. Maka sesungguhnya setiap program mempunyai pola yang sama untuk dapat dikuasi.
Berikut tips untuk memulai ber ta'aruf dengannya.

1. Memulai dari Undo Redo.
Tools yang sangat membantu mempelajari program baru adalah fitur Undo atau Redo. Fitur ini dapat digunakan untuk memulai menjelajah. Logikanya sederhana saja. Jika salah, cukup di undo atau redo. Jangan ragu untuk mencoba fasilitas yang ada dalam ikon yang ada. Tuangkan dalam lembar kerja yang ada, dan mulailah bereksplorasi.

2. Tombol F1 atau Help.
Ikon lainnya yang dapat kita gunakan sebagai titik awal dalam mempelajari program baru tersemat dalam fasilitas help atau tombol F1. Disinilah dokumentasi diklasifikasikan sesuai kesulitan yang ditemukan oleh penggunanya. Bahkan apabila komputer terhubung dengan internet, akses tombol F1 ini akan membawa langsung ke server Developer. Bantuan langkah demi langkah akan diberikan secara sistematis oleh mesin, namun jika masih kesulitan, akan ada bantuan secara personal kepada kita. Dalam Bahasa Inggris tentunya.

3. Siapkan "masalah".
Belajar program baru akan lebih efektif dengan cara mempersiapkan masalah baru yang ingin kita pecahkan menggunakan program tersebut. Bukan hanya sekedar mencoba - coba saja. Karena secara psikologis kita telah mempersiapkan diri untuk menerima hal baru.


Memahami sebuah program komputer memang tak mudah namun teknologi yang berada dibaliknya seharusnya memudahkan, karena hakikatnya ia hanya bersifat membantu manusia dalam menyelesaikan kesulitannya. Sungguh menyenangkan bisa menjelajah dunia baru. Gagal ? Undo... lalu mulai awal lagi

Surabaya, 20/3/2021